Senin, 05 Maret 2018

100 Persen Rumah Miliki WC, Desa Nanga Sebintang Gelar Deklarasi ODF

Bupati Kapuas Hulu; A.M Nasir, SH disambut secara adat oleh masyarakat Desa Nanga Sebintang
(Foto: Pieter)

Desa Nanga Sebintang, Kecamatan Kalis menggelar deklarasi Open Defecation Free (ODF) atau bebas buang air besar sembarangan, Senin (5/3). Hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Kapuas Hulu; A.M Nasir, SH beserta pimpinan OPD di lingkungan pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu, Camat Kalis, Kapolsek Kalis, Danramil Manday, Kepala Puskesmas Kalis, Kepala Desa di lingkungan kecamatan Kalis serta warga masyarakat Desa Nanga Sebintang dan beberapa desa yang berada di sekitarnya.
Kegiatan yang terselenggara atas kerjasama antara Pemerintah Desa Nanga  Sebintang dengan Bidang P2PL Dinas Kesehatan Kabupaten Kapuas Hulu ini berlangsung meriah, dimulai dari prosesi penyambutan rombongan bupati secara adat setempat hingga pada pelaksanaan acara.

Ketua Panitia Penyelenggara; Paskalis Jarop dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini terselenggara berkat sinergi yang baik antara pihak Desa Nanga Sebintang dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Kapuas Hulu serta Puskesmas Kalis. "Kegiatan ini sudah kamibsiapkan bersama-sama dengan pihak Dinas Kesehatan dan Puskesmas Kalis sejak bulan Desember 2017 yang lalu. Kami menyampaikan terima kasih atas bantuan dan dukungan yang diberikan dari semua pihak yang mensukseskan kegiatan ini", papar Jarop.
Sementara itu dalam sambutannya, Kepala Desa Nanga Sebintang; Davit Disel memaparkan bagaimana latar belakang kegiatan tersebut bisa terselenggara. "Kronologinya dimulai dari bulan Maret 2017 dimana saat itu ada KLB Diare di Desa Nanga Sebintang yang menyebabkan kematian seorang balita berumur 10 bulan. Setelah kejadian tersebut, Dinas Kesehatan melalui Puskesmas Kalis bergerak cepat untuk mencari penyebab KLB Diare di desa ini. Setelah disimpulkan, salah pendukung terjadinya diare adalah kebiasaan masyarakat yang Buang Air Besar sembarangan", ujar Disel. Menurut Disel, dari kurang lebih 160 rumah di Desa Nanga Sebintang pada bulan Maret 2017 yang lalu baru sekitar 60 rumah yang sudah memiliki jamban. "Sehingga kemudian kami bersama-sama masyarakat dan pihak Dinas Kesehatan mencari solusi untuk mengatasi hal ini. Salah satunya adalah pengadaan jamban untuk seluruh rumah di Desa Nanga Sebintang dengan target bulan Agustus 2017  tercapai 100 persen. Tapi karna beberapa kendala baru bulan Desember 2017 kemarin rampung dan kami siap untuk melaksanakan deklarasi karena Desa Nanga Sebintang sekarang 100% rumah yang ada sudah punya WC", pungkasnya.

Dalam sambutannya, Bupati Kapuas Hulu;  A.M Nasir, SH memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas terlaksananya kegiatan deklarasi ini. "Saya mengapresiasi apa yang telah dilaksanakan untuk mengatasi masalah kesehatan yang ada, terutama kepada Dinas Kesehatan sebagai leading sector yang mampu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk tidak buang air besar sembarangan", ujarnya. A.M Nasir juga mengingatkan kepada masyarakat untuk terus berusaha meningkatkan kesadaran akan pentingnya masalah kesehatan. "Pemerintah sudah berusaha maksimal dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, saya minta kepada masyarakat jangan sampai mengabaikan masalah kesehatannya sendiri", pungkasnya.

Dalam kegiatan tersebut dilaksanakan pembacaan deklarasi dari perwakilan masyarakat yang kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan prasati oleh Bupati Kapuas Hulu. Pada kesempatan tersebut juga dilaksanakan kegiatan pendukung berupa Pelayanan Kesehatan Gratis dari Puskesmas Kalis melalui program Pelayanan Kesehatan Daerah Terpencil, Perbatasan dan Kepulauan (DTPK). Sebagai bentuk apresiasi kepada masyarakat Desa Nanga Sebintang, panitia mengadakan hiburan rakyat selama 2 hari. (pieter)

Rabu, 17 Januari 2018

IMPLEMENTASIKAN PIS-PK, PUSKESMAS KALIS LAKUKAN PENGUMPULAN DATA

Petugas Puskesmas Kalis sedang melakukan pengumpulan data PIS-PK (Foto: Linda)
Sebagai bentuk implementasi dari Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 36 Tahun 2014 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelaksanaan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK); Puskesmas Kalis, Kab.Kapuas Hulu melakukan pengumpulan data kesehatan keluarga di wilayah kerja puskesmas. Menurut kepala Puskesmas Kalis; Titin Juherni, A.Md.Keb, pengumpulan data tersebut mulai dilaksanakan sejak bulan Januari s.d November 2018."Tahun ini kita rencanakan untuk melaksanakan pengumpulan data di 10 Desa mulai bulan Januari ini sampai bulan November. Sedangkan untuk 7 Desa lainnya akan kita laksanakan tahun depan", ujar Titin. Adapun 10 desa di Kecamatan Kalis yang akan didata tahun ini meliputi; Nanga Kalis, Kalis Raya, Tekudak, Nanga Tubuk, Nanga Danau, Rantau Kalis, Ribang Kadeng, Nanga Sebintang, Peniung dan Segiam. sedangkan 7 Desa yang akan didata pada tahun berikutnya yakni Desa Semerantau, Kensuray, Bahenap, Nanga Raun, Rantau Bumbun, Nanga Lebangan dan Tapang Daan. 

Lebih lanjut dirinya mengatakan sudah berkoordinasi dengan pihak desa yang akan didata sehingga mempermudah proses pengumpulan data."Pengumpulan data ini kita laksanakan secara total artinya semua keluarga akan dikunjungi dan didata tanpa terkecuali. Sebelum mengumpulkan data kita adakan terlebih dahulu sosialisasi dan memperkenalkan tim yang akan melakukan pengumpulan data kepada masyarakat. Data yang dikumpulkan berkaitan dengan kesehatan keluarga, formatnya disediakan oleh Kementerian Kesehatan melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Kapuas Hulu. Selain mengisi format tersebut, kita juga melakukan instruksi Bupati Kapuas Hulu yakni melaksanakan pengecekan golongan darah serta memeriksa kadar gula darah. Sedangkan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kapuas Hulu ada pendataan tambahan yang juga kita lakukan yakni data gambaran kemiskinan.", tambah Titin. Berkaitan dengan pendataan yang sudah berlangsung di Desa Nanga Kalis, Titin mengatakan bahwa masyarakat antusias dan tidak ada penolakan dari keluarga yang akan didata. 

Mengenai kendala saat melakukan pengumpulan data; menurut Titin dikarenakan pendataan bersifat total sampling maka seluruh anggota keluarga harus didata dan diwawancarai oleh surveyor, di lapangan sering ditemukan anggota keluarga yang sedang tidak berada di rumah. Hal ini membuat waktu yang dibutuhkan untuk pendataan menjadi lebih panjang karena surveyor harus menjadwalkan kunjungan ulang. "Kendala yang terlalu sulit sih sementara ndak ada, hanya kadang ada keluarga yang anggotanya sedang tidak ada dirumah jadi kita harus kunjungi ulang supaya datanya valid dan terkumpul semua", ujar Titin. Dalam proses pengumpulan data ini, pihak Puskesmas Kalis berharap kepada keluarga yang dikunjungi untuk memberikan data yang lengkap dan benar sehingga hasil akhir pendataan dapat memberikan gambaran yang real mengenai kesehatan keluarga di wilayah kerja Puskesmas Kalis


Data yang sudah dikumpulkan oleh para surveyor tersebut kemudian akan langsung diinput oleh administrator yang telah ditunjuk ke dalam aplikasi khusus PIS-PK secara online. Data yang telah diinput tersebut menjadi real count  yang dapat dipantau progressnya secara nasional. Ditemui di tempat terpisah, Admin PIS-PK Puskesmas Kalis; Roby Sugara, A.Md.Gz menyampaikan bahwa per tanggal 17 Januari 2018 data yang bisa diinput kedalam aplikasi masih sangat minim, hal ini dikarenakan jaringan internet yang tidak stabil. “Sampai hari ini kita baru bisa input­-kan beberapa kepala keluarga jak, sinyal internet ndak stabil jadi kadang untuk log in pun susah”, ujar Roby. Dirinya menambahkan, ada 10 staf yang secara khusus diperbantukan untuk melakukan input data di aplikasi tersebut. “Ada 10 orang yang tugasnya bantu input data, tapi karna jaringan ndak stabil jadi kerja belum bisa maksimal”, pungkas Roby. (pieter)

Kamis, 13 Oktober 2016

KECAMATAN KALIS GELAR PENCANANGAN BELKAGA TAHUN 2016




Camat Kalis; Drs.Mahmud Syahdan, M.Si sedang memberikan sambutan pada acara pencanangan Belkaga Kecamatan Kalis Tahun 2016, Kamis (13/10) di Kantor Desa Nanga Kalis. (dok.Pusk.Kalis)  

Dalam rangka mensukseskan program nasional untuk mencegah penularan dan terjadinya penyakit kaki gajah maka Kecamatan Kalis, Kabupaten Kapuas Hulu menggelar pencanangan Bulan Eliminasi Kaki Gajah (Belkaga) tahun 2016 pada hari Kamis (13/10) yang digelar di kantor Desa Nanga Kalis. Hadir dalam kegiatan ini Camat beserta Muspika Kecamatan Kalis, perwakilan Dinkes Kabupaten Kapuas Hulu, pimpinan dan jajaran Puskesmas Kalis, Kepala Desa, Kader Kesehatan,Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat dan ratusan masyarakat desa Nanga Kalis. Kegiatan pencanangan ini juga dirangkai dengan kegiatan POPM (Pemberian Obat dan Pencegahan Masal) Filariasis sebagai implementasi nyata dari pencegahan penyakit kaki gajah.

Sebagai pelaksana POPM Filariasis, pihak Puskesmas Kalis melalui Plt.Kepala Puskesmas; Titin Juherni,A.Md.Keb menyampaikan laporan mengenai rangkaian pelaksanaan Belkaga Tahun 2016 di Kecamatan Kalis. “Jumlah sasaran pemberian obat untuk mencegah penyakit kaki gajah di wilayah kecamatan Kalis secara keseluruhan mencapai 12.275 jiwa yang dibagi dalam 3 kelompok umur pemberian obat. Khusus untuk Desa Nanga Kalis yang merupakan tempat pencanangan pada hari ini, total sasaran berjumlah 2160 jiwa”, ujar Titin.

Kepala Desa Nanga Kalis; Sutarman menyambut baik kegiatan yang dilaksanakan di wilayah yang dipimpinnya ini. “Kami berterima kasih kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam kegiatan ini dan secara khusus memilih desa Nanga Kalis sebagai tempat pencanangan. Dalam kesempatan ini saya juga menghimbau kepada masyarakat yang berada di Desa Nanga Kalis untuk ikut seluruhnya dalam kegiatan ini karena tujuannya sangat baik bagi kita semua”, tukas Sutarman dalam kata sambutan yang disampaikannya dihadapan seluruh undangan dan masyarakat yang hadir.

Dinas Kesehatan Kabupaten Kapuas Hulu melalui Kepala Bidang P2PL; Herberia Karosekali, SKM dalam sambutannya mengapresiasi kerjasama yang berjalan baik antara pihak Muspika dan Dinkes serta Puskesmas dalam pelaksanaan kegiatan ini. Herberia juga menyampaikan beberapa hal terkait tujuan dari kegiatan POPM yang dilaksanakan. “Obat yang diberikan ini jenis obat cacing, dimana cacing merupakan penyebab penyakit kaki gajah. Obat ini diminum sekalisetahun yakni pada bulan Oktober setiap tahunnya selama lima tahun dan akan berlangsung sampai tahun 2020. Jadi diharapkan kepada kita semua untuk rutin minum obat ini setiap tahunnya”, ujar Herberia.

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh camat Kalis, Drs.Mahmud Syahdan,M.Si. dalam sambutannya, Syahdan menyampaikan bahwa kegiatan pencanangan di kecamatan Kalis ini adalah rangkaian dari pelaksanaan kegiatan di tingkat Kabupaten.”Awal bulan yang lalu kita sudah melakukan pencanangan tingkat Kabupaten di Kecamatan Selimbau yang dibuka langsung oleh Bapak Bupati dan dihadiri oleh Wakil Bupati, Sekda, Kadinkes beserta FKPD sert SKPD terkait. Saya berharap kegiatan ini dapat menekan angka kejadian kaki gajah di Kabupaten Kapuas Hulu, khususnya”, papar Syahdan.

Secara simbolis camat Kalis kemudian menyerahkan obat POPM Filariasis kepada 4 orang perwakilan undangan yang hadir yakni perwakilan penggerak PKK Kecamatan Kalis,perwakilan Dinkes,perwakilan Koramil dan perwakilan masyarakat serta kemudian diminum secara serempak dihadapan seluruh tamu undangan yang hadir. Kegiatan dilanjutkan dengan pembagian obat kepada warga desa Nanga Kalis yang dilakukan oleh petugas dari Puskesmas Kalis. Animo masyarakat desa Nanga Kalis mengikuti kegiatan ini, hal ini terlihat dari antrean masyarakat yang membludak sehingga membuat petugas Puskesmas dan aparat desa yang mengatur antrian sedikit kerepotan. Menurut petugas puskesmas Kalis yang ditemui di lokasi pembagian obat, kegiatan berlangsung sampai pukul 14.00 WIB.bagi masyarakat yang belum datang pada hari tersebut dapat mengambil obat di Puskesmas Kalis setiap hari pada jam kerja sampai tanggal 31 Oktober 2016 mendatang. (piter)

Rabu, 05 Oktober 2016

PUSKESMAS KALIS SIAP SUKSESKAN BELKAGA TAHUN 2016



Staf Puskesmas Kalis sedang mempersiapkan obat Filariasis yang akan didistribusikan ke seluruh desa di wilayah Kecamatan Kalis, Kab.Kapuas Hulu. (foto: Pieter)
NANGA KALIS - Puskesmas Kalis sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama di Kecamatan Kalis saat ini sedang melakukan persiapan pelaksanaan Bulan Eliminasi Kaki Gajah (BELKAGA) tahun 2016 untuk wilayah Kecamatan Kalis yang akan dilaksanakan pada bulan Oktober ini. Salah satu bagian dari kegiatan ini adalah kegiatan Pemberian Obat Pencegahan Masal (POPM) di seluruh wilayah kecamatan Kalis. Pelaksanaan BELKAGA adalah implementasi dari program Nasional dalam rangka pencegahan penyakit kaki gajah yang dicanangkan oleh Kementerian Kesehatan RI Pada Tahun 2015 yang lalu, program ini dilaksanakan mulai tahun 2015 sampai dengan tahun 2019 dengan tujuan Indonesia bebas dari penyakit kaki gajah pada tahun 2020. Sesuai instruksi dari Kemenkes RI, kegiatan ini akan dilangsungkan setiap bulan Oktober secara rutin sampai tahun 2019.
Ditemui di Puskesmas Kalis pada Rabu (5/10), penanggung jawab pelaksanaan BELKAGA Puskesmas Kalis; Lidi.B, A.Md.Kep mengungkapkan bahwa saat ini Puskesmas tengah memasuki tahap akhir dari persiapan tersebut. “Minggu lalu kita sudah menerima obat dan kelengkapan lainnya dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kapuas Hulu. Kita sekarang sudah masuk dalam tahap packing dan distribusi obat yang akan dibagikan di 17 desa yang berada di wilayah kecamatan Kalis. Sekarang kita tinggal menunggu hasil koordinasi dengan camat dan perangkat desa untuk dapat menentukan hari atau tanggal untuk launching kegiatan tersebut secara serentak”. Lebih jauh Lidi menuturkan bahwa kegiatan ini bersifat lintas sektoral, artinya melibatkan banyak pihak dan semua lapisan masyarakat. “Untuk mensukseskan kegiatan ini kita perlu kerjasama dengan pemerintah kecamatan, desa, kader serta seluruh petugas Puskesmas Kalis yang ditempatkan di desa-desa”, ujar Lidi.
Dari pendataan yang dilaksanakan sebelumnya, jumlah sasaran penduduk di kecamatan Kalis yang akan mengikuti minum obat cacing masal ini berjumlah 12.275 jiwa. Jumlah ini sendiri dibagi dalam 3 kelompok usia yang terdiri dari kelompok usia 2-5 tahun, 6-14 tahun dan 15-70 tahun. Ditemui di tempat yang sama, dokter Puskesmas Kalis; dr.Shirley Ruth mengungkapkan bahwa ada 2 jenis obat yang akan diberikan bagi setiap warga yang mengikuti kegiatan ini. “Masing-masing penduduk mendapat 2 jenis obat cacing yakni; Albendazole dan Diethylcarbamazine. Kalau untuk dosis kita sudah siapkan dan nanti tinggal langsung dibagikan saja”,jelas Shirley. Lebih lanjut Shirley menjelaskan bahwa ada beberapa pengecualian atau kontra indikasi bagi masyarakat yang akan mengkonsumsi obat yang dibagikan tersebut. “Obat yang dibagi ini tidak boleh dikonsumsi oleh anak dibawah 2 tahun, ibu hamil, penderita darah tinggi dan orang yang tengah mendapatkan pengobatan penyakit yang berat. Kalau efek samping sih tidak terlalu mengganggu ya, biasanya sebagian kecil ada yang pusing, mual atau muntah tapi ya nggak banyak hanya sebagian kecil saja”, tutup Shirley. (pieter)

Kamis, 12 Mei 2016

Catatan di Hari Perawat Internasional 2016; Gambaran dan Tantangan Profesi Keperawatan di Indonesia

 Setiap tanggal 12 Mei selalu diperingati sebagai International Nurses Day atau Hari Perawat Internasional,tidak terkecuali pada tahun ini; 2016. Tanggal 12 Mei merupakan tanggal kelahiran Florence Nightingale, perawat yang namanya melegenda sebagai sosok perawat yang penuh ketulusan dan kasih sayang dalam memberikan perawatan bagi serdadu Inggris di medan perang. Tentang alasan mengapa tanggal 12 Mei dipilih sebagai Hari Perawat Internasional selain karna bertepatan dengan hari lahirFlorence Nightingale sendiri menjadi tidak begitu penting menjadi bahan pembicaraan apalagi bahan perdebatan.
Pada tahun 2016 ini, International Council of Nurses  atau Konsil Keperawatan Internasional sebagai lembaga tertinggi profesi perawat di dunia menetapkan tema "Nurses: A Force for Change: Improving health systems' resilience", yang kurang lebih pengertiannya adalah Perawat merupakan kekuatan untuk perubahan demi sebuah ketahanan sistem kesehatan. Bersamaan dengan peluncuran tema ini, ICN juga meluncurkan logo, video pesan dan sebuah buku panduan.

Gambaran Perawat di Indonesia
Sampai tahun 2015,  menurut Data Tenaga Kesehatan Kementrian Kesehatan RI jumlah perawat yang terdaftar di negara ini mencapai 288.405 orang yang lapangan kerjanya tersebar di Instansi Pemerintah maupun swasta. Jika merujuk pada standar WHO maka rasio perawat di Indonesia dikategorikan cukup. Namun hal ini tidak berlaku di lapangan, kenyataannya tenaga perawat tertumpuk di kawasan perkotaan dan menjadi sesuatu yang langka untuk wilayah pedalaman/ pedesaan. Sebagian besar perawat di Indonesia tergolong sebagai perawat vokasi, yakni perawat dengan jenjang pendidikan Diploma III. Berkaitan dengan tema yang diusung oleh ICN dalam perayaan Hari Perawat Internasional merujuk dalam naskah publikasi yang dirilis, perawat dituntut untuk menjadi role model khususnya dalam membangun sebuah sistem kesehatan dalam negara masing-masing.
Merujuk pada UU No.38 Tahun 2014 tentang Praktik Keperawatan, perawat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sebuah sistem kesehatan yang dibangun oleh pemerintah dan negara. Baik dalam sistem pelayanan, pembiayaan dan jaminan maupun dalam sistem regulasi yang ada. Hal ini menuntut kemampuan dan kompetensi yang baik dari perawat agar dapat menyesuaikan diri dengan sistem yang sudah dirancang sehingga pembangunan kesehatan dapat terlaksana dengan baik.
Namun yang patut disayangkan dalam hal ini adalah; masih banyak perawat di Indonesia yang belum mampu memenuhi kriteria dan kompetensi yang diperlukan, bahkan untuk kebutuhan dalam negeri sekalipun. Sedangkan untuk lapangan kerja di luar negeri, memang selalu ada kontribusi dari perawat yang menjadi pekerja professional di luar negeri. Tetapi apabila dibandingkan dengan jumlah keseluruhan perawat di Indonesia maka jumlah 100-200an tenaga perawat yang mampu memenuhi kompetensi untuk bekerja di luar negeri tersebut tentunya sangat kecil.
Perawat belum mampu menunjukkan kemampuan yang memadai untuk memberikan pelayanan yang komprehensif. Hal ini bukan kesalahan mutlak dari individu perawat, melainkan banyak kontribusi kelemahan yang disumbangkan oleh sistem maupun regulasi. Saat ini, banyak perawat yang berstatus honor maupun magang di Instansi pemerintah dan swasta yang tidak mendapatkan penghasilan yang layak secara finansial maupun moril. Hal ini jelas berpengaruh; bagaimana tidak, dituntut bekerja professional tetapi dibayar seadanya dan sudah pasti hal ini tidak berimbang. Hal ini berpotensi menimbulkan kecemburuan sosial pada profesi kesehatan lainnya yang justru mendapatkan segala sesuatu yang lebih layak, baik dari sisi regulasi maupun finansial. Meskipun sebenarnya perawat tidak perlu mencemaskan atau bahkan merasa tersaingi oleh profesi lain karna memang berbeda disiplin ilmu.

Ilustrasi Perawat (Sumber: health.kompas.com)

Tantangan bagi Perawat Indonesia
Kedepan, ada beberapa tantangan yang harus dan akan dihadapi oleh perawat di Indonesia
  • Era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), akhir tahun 2015 adalah masa dimulainya era Masyarakat Ekonomi ASEAN atau MEA yang salah satu poinnya adalah setiap tenaga kerja professional bebas keluar masuk dan bekerja di seluruh negara yang termasuk dalam kawasan ASEAN. Hal ini merupakan sebuah ancaman sekaligus tantangan bagi perawat Indonesia untuk bisa mensejajarkan diri dan mendapat pengakuan secara internasional. Filipina dan Thailand merupakan negara dengan kualitas dan kompetensi perawat yang terbaik di ASEAN dan sudah diakui secara internasional. Tenaga kerja Perawat dari kedua negara tersebut tersebar ke seluruh penjuru dunia dengan standar kompetensi yang baik dan teruji. Salah satu tantangannya adalah kemampuan berbicara Bahasa Inggris sebagai bahasa yang umum digunakan di dunia internasional yang mana sebagian besar perawat di Indonesia tidak menguasai.
  • Perubahan MDG's ke SDG's, dengan berakhirnya Millenium Development Goal's atau MDG's yang dicanangkan oleh PBB sebagai tujuan pencapaian global pada tahun 2015 yang lalu, maka dicanangkanlah Sustainable Development Goal's atau SDG's sebagai sasaran global berikutnya. sebagai sebuah tujuan yang berkelanjutan, SDG's diklaim lebih menjangkau seluruh lapisan masyarakat dunia beserta aspek permasalahan yang dihadapi jika dibandingkan MDG's. Jika pada MDG's hanya memiliki 8 sasaran global maka SDG's memiliki 17 sasaran yang sebagian besar berafiliasi pada sektor kesehatan dan pembangunan manusia dimana perawat menjadi bagian yang tidak terpisahkan didalamnya. Sebagai sasaran global, maka secara otomatis seluruh poin SDG's akan masuk dalam rencana pembangunan pemerintah pusat sampai ke daerah. Perawat dituntut mampu menterjemahkan sasaran tersebut dan melaksanakannya dengan baik sehingga sasaran yang diproyeksikan dapat tercapai dan memuaskan.
  • Regulasi dan Perundang-undangan, hal ini menjadi salah satu tantangan terberat yang harus dihadapi perawat di Indonesia. Lambannya proses legislasi bagi profesi keperwatan dapat dilihat dari panjangnya waktu pengesahan RUU praktik Keperawatan menjadi UU Praktik Keperawatan; yang nyaris 10 tahun terus menerus berada di daftar tunggu. Belum lagi hingga saat ini Konsil Keperawatan belum dibentuk oleh Pemerintah, padahal dalam UU No.38 Tahun 2014 dengan jelas dikatkan bahwa Konsil Keperawatan RI paling lambat dibentuk pada Oktober 2016. Sedikit aneh karna konsil tersebut justru baru direncanakan dibentuk setelah MEA dimulai pada akhir tahun 2015. Ketiadaan Konsil berpengaruh pada skema kompetensi perawat di Indonesia karna hingga saat ini kita belum meiliki sistem penjamin mutu perawat Indonesia, padahal hal tersebut penting mengingat Indonesia sudah mulai mengirim tenaga keperawatan bertaraf internasional ke beberapa negara. Proses legislasi adalah sebuah political process bagi sebuah negara yang menganut paham demokrasi seperti Indonesia. Keperawatan belum memiliki kekuatan secara politik sehingga hal ini sangat bepengaruh terhadap produktivitas regulasi yang diperuntukan bagi profesi perawat. Belum lagi regulasi yang tidak update, tumpang tindih dan multitafsir membuat perawat sulit untuk memahami serta menjalankan regulasi yang dikeluarkan.
Sebagai implementasi dari semangat Hari Perawat Internasional 2016 ini maka sudah seharusnya perawat mampu menjadi role model dalam sistem kesehatan yang berlaku di Indonesia. Perawat harus mampu mengedepankan semua aspek positif dan mulai belajar untuk senantiasa meningkatkan kemampuan serta wawasan. Perawat harus berdiri dibarisan terdepan dalam segala situasi, baik yang berhubungan dengan hak maupun kewajiban agar ada keseimbangan dan menciptakan harmoni dalam menjalani profesi. 
Selamat memperingati Hari Perawat Internasionl 2016, maju terus profesi Perawat.
Tuhan Memberkati.

 


Referensi:
1. Publikasi ICN dalam rangka International Nurses Day 2016, dapat diunduh disini 
2. Harian KOMPAS dalam http://print.kompas.com/baca/2015/03/20/Memacu-Daya-Saing-Perawat
 

Selasa, 10 Mei 2016

Sekilas Tentang Angka Kredit Jabatan Fungsional Perawat


Ilustrasi Perawat (Dokumentasi Pribadi)
Setelah hampir 14 tahun profesi perawat yang mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil menggunakan Kepmenpan No.94 tahun 2001 sebagai acuan angka kredit dan sebagai pedoman penyusunan serta evaluasi SKP, maka pada tahun 2014 Kementrian PAN RB mengeluarkan Permenpan No.25 Tahun 2014 tentang Jabatan Fungsional Perawat dan Angka Kreditnya.
Terdapat beberapa perubahan mendasar dalam Permenpan No.25 Tahun 2014 ini diantaranya dalam klasifikasi jenjang jabatan perawat. Jika dalam Kepmenpan No.94 Tahun 2001 membagi jabatan perawat dalam kategori terampil dan ahli, maka dalam Permenpan No.25 Tahun 2014 ada perbedaan penyebutan yakni Perawat kategori Keterampilan dan Perawat Kategori Keahlian. Bagi Perawat Kategori keterampilan jika dalam peraturan sebelumnya dibagi menjadi 4 jenjang yakni; perawat pelaksana pemula,perawat pelaksana, perawat pelaksana lanjutan dan perawat penyelia maka dalam peraturan yang berlaku saat ini perawat kategori keterampilan hanya dibagi dalam 3 jenjang yakni; perawat terampil,perawat mahir dan perawat penyelia. Hal ini dikarenakan dihapuskannya jenjang pendidikan SPK dari sistem penghitungan angka kredit sehingga jenjang pendidikan terendah dihitung dari pendidikan DIII Keperawatan atau golongan IIc.
Sedangkan bagi perawat kategori keahlian, jenjang jabatan justru bertambah menjadi 4 tingkat. jika sebelumnya hanya ada perawat pertama, perawat muda dan perawat madya, maka saat ini sebutan tersebut berubah menjadi Perawat Ahli Pertama, Perawat Ahli Muda, Perawat Ahli Madya dan Perawt Ahli Utama. Selain itu, dalam peraturan terbaru ini juga memberikn angka kredit untuk jenjang profesi Ners dengan angka kredit 100. Hal ini berbeda dengan peraturan sebelumnya dimana perawat yang memiliki ijazah Ners hanya memperoleh angka kredit sebesar 75 poin.
Permenpan No.25 Tahun 2014 juga memuat perombakan besar pada butir kegiatan di setiap unsur, baik bagi Perawat Kategori keterampilan maupun perawat kategori keahlian. Hal ini disesuaikan dengan perkembangan disiplin ilmu serta penyesuaian dengan tingkat regulasi yang ada. Untuk lebih jelasnya, silahkan unduh Permenpan No.25 Tahun 2014 beserta lampirannya disini  .Sebagai petunjuk pelaksanaan dari Permenpan No.25 Tahun 2014 maka dikeluarkan pula Peraturan Bersama Menteri Kesehatan No.5 Tahun 2015 dan Kepala BKN No.6 Tahun 2015 yang dapat diunduh disini.
Kiranya bermanfaat terutama bagi rekan sejawat yang sedang menyusun SKP maupun DUPAK di instansi masing-masing. Tuhan Memberkati.


Selasa, 27 Mei 2014

Materi Ajar Keperawatan Gawat Darurat



Untuk teman-teman perawat maupun mahasiswa keperawatan yang sedang mencari referensi tentang Keperawatan Gawat Darurat, berikut saya sediakan beberapa materi yang bisa dijadikan bahan rujukan. Materi yang saya sediakan adalah materi ajar mata kuliah Keperawatan Gawat Darurat bagi mahasiswa semester VI Akper Bethesda Serukam, Kalimantan Barat.
Klik pada poin untuk mengunduh file yang saya sediakan dalam format .pdf.
Semoga bermanfaat
  1. Konsep Keperawatan Gawat Darurat download here
  2. Emergency Nurse download here
  3. Konsep IGD download here
  4. Konsep ICU download here
  5. Triage download here
  6. Bagan Triase START download here
  7. Konsep Airway & Breathing download here
  8. Konsep Sirkulasi download here
  9. Konsep Defibrilasi download here
  10. Konsep Bantuan Hidup Dasar (BHD) download here
  11. Bagan Algoritma BHD download here
Supported by Dropbox

Kamis, 15 Mei 2014

Pontianak Post Online | Portal Berita: 5.629 Kasus TB Paru BTA Positif


================================================================================
Asep Haryono on 14/05/2014 09:24:00
Andy Jap
PONTIANAK - Jumlah kasus penyakit tuberculosis (TB) paru BTA positif di Kalimantan Barat mencapai 5.629 kasus pada tahun lalu. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar, Andy Jap menegaskan penyakit tersebut dapat disembuhkan, jika pasien patuh dalam mengobati penyakitnya.“Terpenting pasien patuh untuk berobat dan mengonsumsi obatnya. Pengobatan harus tuntas. Kalau tidak tuntas kumannya bisa kebal,” ujar Andy kepada Pontianak Post, Selasa (13/5). Menurut Andy, Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar bersama pemerintah kabupaten kota berupaya menemukan kasus TB. Mereka yang positif mendapatkan pengobatan dan obat-obatan gratis. Obat-obatan ini tersedia di puskesmas. “Ditargetkan Indonesia harus bebas TB,” ujar Andy.Kepala Bidang Pengelola Penyakit dan Pendekatan Lingkungan Dinkes Kalbar, Honggo Simin menambahkan pada tahun lalu sebanyak 5.629 kasus yang dikonfirmasi BTA positif. “Totalnya ada 5.771 kasus. Dari jumlah tersebut 5.629 dinyatakan TB paru BTA positif, sedangkan sisanya 142 kasus dinyatakan ekstra paru,” kata Honggo. Ia menjelaskan Dinkes Kalbar belum dapat mengambil data mengenai penyakit TB pada tahun ini. Hal ini dikarenakan adanya gangguan sistem. “Data itu kiriman dari kabupaten dan kota dengan menggunakan sistem. Karena ada gangguan sistem, tidak bisa diambil dulu,” ujarnya. Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Kalbar, Frederika Cornelis mengatakan penanganan TB tidak hanya dilakukan pemerintah dan jajaran kesehatan. Penanganannya harus melibatkan mitra dan sektor terkait yakni pemerintah, swasta, masyarakat, pasien TB, maupun mantan pasien TB. Peningkatan koordinasi, sinkronisasi, harmonisasi, dan keterpaduan antara pemangku kepentingan harus dilakukan mulai dari perencanaan hingga penilaian. “Hal ini agar pencapaian tujuan program berjalan efektif dan efisien,” ujarnya, yang menghadiri juga acara jalan santai HKG PKK dan Hari TB Sedunia Tahun 2014 di Sekadau, kemarin.Ia menjelaskan program pemberantasan TB di Indonesia dilaksanakan secara nasional pada 1969 dan dikoordinir Departemen Kesehatan. Pengobatan dilakukan gratis dengan menggunakan obat standar. Pada 1987 pemerintah hanya menggunakan obat jangka pendek dengan obat tertentu dalam waktu satu sampai lima bulan. Hasil angka kesembuhannya bervariasi, antara 40 persen sampai 60 persen, sedangkan angka kesembuhan yang diharapkan minimal 85 persen. Menurut Frederika, TB merupakan salah satu indikator keberhasilan MDGs yang harus dicapai Indonesia, yakni menurunkan angka kesakitan dan kematian menjadi setengahnya pada 2015. “Kami (PKK) memiliki komitmen kuat dan berkontribusi aktif dalam upaya pengendalian TB sesuai lingkup bidang masing-masing,” katanya. (uni)

Referensi
Harian Pontianak Post tanggal 14 Mei 2014, "5.629 Kasus TB Paru BTA Positif". Tersedia dalam http://www.pontianakpost.com, diakses tanggal 15 Mei 2014. Disalin sesuai aslinya.

Senin, 12 Mei 2014

Refleksi Hari Perawat Internasional; Lebih dari sekedar perayaan ulang tahun Florence Nightingale

Oleh : Pieter Mario Elpradivta, S.Kep.,Ners




International Nurses Day
Setiap tanggal 12 Mei, seluruh perawat di dunia secara bersama-sama memperingati "International Nurses Day" atau Hari Perawat Internasional. Dalam rangka memperingati perayaan tersebut, ada banyak kegiatan maupun cara yang dilakukan oleh perawat di masing-masing negara. Beberapa diantaranya merayakan dengan membagi bunga kepada pasien, melakukan kegiatan amal maupun dengan menggelar aksi damai yang bertujuan untuk menyampaikan aspirasi perawat.

Mengapa tanggal 12 Mei diperingati sebagai Hari Perawat Internasional? Pertanyaan ini mungkin selalu berputar di pikiran sebagian besar perawat atau orang awam yang melihat antusiasme dalam perayaan ini. Sebelum lebih jauh larut dalam "latah" dengan perayaan hari perawat, ada baiknya jika kita terlebih dahulu mengetahui dan mengenal sejarah tentang pemilihan tanggal 12 Mei tersebut.
Florence Nightingale

Ulang Tahun Florence Nightingale
Tanggal 12 Mei sendiri sebenarnya adalah tanggal kelahiran Florence Nightingale, seorang perawat asal Firenze Italia pada tahun 1820. Terpilihnya hari kelahiran Florence Nightingale sebagai hari perawat internasional diprakarsai oleh International Council of Nurses (ICN) atau Dewan Perawat Internasional pada tahun 1974. Untuk merayakan hari perawat internasional, ICN setiap tahunnya mengirimkan kotak Hari Perawat Internasional. Kotak tersebut berisi bahan-bahan informasi pendidikan dan publik, untuk digunakan oleh perawat di mana-mana. Jika merunut ke belakang ICN telah merayakan hari perawat internasional ini sejak tahun 1965. Pada tahun 1953, Dorothy Sutherland, seorang pejabat di Departemen Kesehatan, Pendidikan dan Kesejahteraan Amerika Serikat, mengusulkan agar Presiden Dwight D. Eisenhower memproklamirkan "Hari Perawat", namun dia tidak menyetujuinya [1].

Pemilihan tanggal 12 Mei ternyata mengalami penolakan dari beberapa organisasi profesi keperawatan di Amerika Serikat. Pada tahun  tahun 1999, sebuah organisasi profesi keperawatan, UNISON, bahkan meminta ICN untuk mengubah tanggal hari peringatan ini ke tanggal lain dan mengatakan bahwa Nightingale tidak mewakili keperawatan modern. Hal ini tidak digubris oleh ICN, karena sebelum mendapatkan keberatan dari UNISON Pada tahun 1998, 8 Mei ditetapkan sebagai Hari Keperawatan Mahasiswa Nasional. Penetapan hari perawat internasional ini diikuti kemudian pada tahun 2003, dengan menetapkan hari Rabu antara tanggal 6 hingga 12 Mei dirayakan sebagai Hari Perawat Sekolah Nasional [2]

Latar belakang inisiatif ICN memilih hari kelahiran Florence Nightingale sebagai hari perawat internasional lebih didasari pada sisi ketokohan, bukan siapa yang pertama. Florence dianggap dapat merepresentasikan sosok perawat modern yang berfikiran maju serta mempunyai wawasan dan pengetahuan yang tinggi. Sosok Florence juga dianggap mewakili perawat dari sisi caring atau kepedulian terhadap pasien, dimana dapat memandang manusia sebagai mahkluk ciptaan Tuhan yang utuh dan perlu ketulusan hati.
 
Perawat Modern
Florence Masa Kini 
Terlepas dari segala perdebatan mengenai tanggal 12 Mei yang ditetapkan sebagai Hari Perawat Internasional maupun perdebatan lainnya, ada hal lain yang sebenarnya lebih layak menjadi bahan diskusi. Tahun ini tema yang diambil dalam merayakan Hari Perawat Sedunia yang dikutip dari International Council of Nurses (ICN) adalah 'A Force for Change A Vital Resource for Health'. Tema ini diambil untuk para perawat yang melakukan perubahan dengan sebuah sumber daya vital bagi kesehatan di sepanjang tahun, melalui aksi individu dan kegiatan kelompok [3]
"Para perawat memegang peran penting, basis dalam perkembangan kondisi fisik setiap pasien, sehingga mempengaruhi populasi dan sistem kesehatan," tulis situs Altius Directory. Perawat juga merupakan pekerjaan yang menanamkan kepedulian tentang kesehatan [3]. Dalam sebuah sistem kesehatan, perawat memegang peranan penting dalam hal yang bersifat Promotif, Preventif dan Rehabilitatif. Hal ini yang kemudian direfleksikan oleh ICN dalam tema untuk perayaan Hari Perawat Internasional Tahun 2014.

Sebagai sebuah sumber daya vital, perawat sudah seharusnya memiliki kemampuan yang cakap dan berkompeten dalam bidang keperawatan. Perawat dituntut untuk melaksanakan 7 peran utama dalam memberikan asuhan keperawatan yakni; pemberi asuhan keperawatan, advokat, edukator, koordinator, kolaborator, konsultan dan pembaharu. Untuk melaksanakan peran tersebut, perawat harus mampu memenuhi kebutuhan klien. Bukan hanya kebutuhan biologis, namun juga kebutuhan psikologis, sosial dan kultural sehingga menjadi sebuah proses yang komprehensif.

Kenyataannya, tidak semua perawat mampu mengikuti tuntunan dan melaksanakan peran yang telah dirumuskan bersama. Seringkali perawat tidak mampu menunjukkan kompetensi dan profesionalitasnya saat memberikan asuhan keperawatan. Tidak heran, di beberapa negara khususnya negara berkembang profesi perawat masih dianggap sebagai "asisten" maupun "pembantu" profesi kesehatan lainnya. Sebuah ironi ditengah kemajuan pesat bidang keilmuan dan pengetahuan secara global khususnya di bidang kesehatan.
 
Demo menuntut pengesahan RUU Keperawatan di Gedung DPR-RI
Florence-Florence di Indonesia
Di Indonesia, perawat menjadi sebuah profesi yang bertumbuh dan berkembang pesat khususnya dalam hal kuantitas baik institusi pendidikan maupun lulusan. Pada tahun 2013, jumlah perawat yang bekerja di sarana kesehatan di seluruh Indonesia mencapai 296.126 orang atau 33,12% dari total sebanyak 894.095 orang tenaga kesehatan dari berbagai profesi [4]. Jika dihitung berdasarkan rasio World Health Organisation jumlah perawat dengan jumlah penduduk di Indonesia sudah mencukupi [5]. 
Untuk menghasilkan SDM perawat, Indonesia tercatat memiliki 753 Akademi Keperawatan (Akper), 368 Politeknik Kesehatan (Poltekkes), 311 prodi S1, 7 prodi S2 dan 1 prodi S3 yang tersebar di seluruh Indonesia [6].

Besarnya jumlah institusi ternyata belum sebanding dengan kualitas pengelolaan maupun output yang dihasilkan. Untuk Akaper contohnya, dari jumlah 753 Akper di seluruh Indonesia tersebut, 457 diantaranya memiliki sertifikat akreditasi yang masih berlaku, 44 kadaluarsa dan 252 belum terakreditasi. Jumlah ini tentunya sangat fantastis sekaligus dilematis, dimana lebih dari 50% Akper ternyata belum terakreditasi yang berarti bahwa kualitas lulusan masih diragukan [6].
Dalam perkembangannya, perawat Indonesia banyak yang bekerja di luar negeri seperti Amerika Serikat, Australia, Kanada, Inggris, Belanda, Norwegia. Kebutuhan perawat Indonesia di dunia Barat meningkat pesat. Hal ini sejalan dengan penuaan usia dan menurunnya keinginan menjadi perawat pada generasi muda di Barat. Diperkirakan, di Amerika saja kekurangan perawat profesional berkisar 1 juta orang di tahun 2015. Selain itu, saat ini perawat Indonesia juga memiliki peluang besar untuk bekerja di negara Timur Tengah [7]. Secara umum, kebutuhan perawat di dunia saat ini dipasok dari tiga negara Asia, yakni, Filipina, China dan India. Padahal secara geografis, Indonesia negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia.

Ada beberapa kelemahan mendasar yang dimiliki oleh perawat di Indonesia, sehingga kurang diperhitungkan dalam hal pemenuhan kebutuhan tenaga perawat internasional. Kelemahan mendasar, para lulusan perawat ini standar kompetensinya tidak diakui dunia internasional. Sebagai perbandingan, lulusan perawat Malaysia diakui oleh negara Commonwealth dan lulusan perawat Filipina langsung bisa bekerja di Amerika dan Eropa [7].

Kelemahan kedua, perawat Indonesia kemampuan bahasa Inggris menyedihkan. Padahal kemampuan berbahasa Inggris sangat dibutuhkan dalam kompetisi tingkat internasional. Begitu juga soal ketrampilan, perawat Indonesia masih kurang, terlihat dari segi skoring the national council licensure examination (NCLEX) yang masih rendah. Ujian NCLEX merupakan prasyarat perawat Indonesia untuk dapat bekerja di luar negeri. Sebagai gambaran, skor yang diperoleh perawat Indonesia hanya mencapai angka 40. Padahal skoring yang dibutuhkan untuk bekerja di Eropa antara 50 sampai 70. Bahkan di Amerika Serikat skoring dipatok 70 sampai 80 [7].

Hal ini menunjukkan betapa tertinggalnya profesi keperawatan di negara kita, bahkan untuk bersaing dengan negara di regional ASEAN saja sangat sulit. Belum lagi adanya indikasi ketidakmampuan pemerintah dalam mengelola keperawatan menjadi sebuah profesi yang lebih odern dan professional. Kita ambil contoh, Rencana Undang Undang (RUU) Keperawatan yang mengatur berbagai macam ketentuan belum disahkan sampai saat ini. Padahal, RUU Keperawatan yang disusun oleh Konsil Keperawatan Indonesia tersebut telah diajukan melalui Program Legislasi Nasional (Prolegnas) di DPR-RI sejak tahun 2009. Sampai dengan pertengahan tahun 2014, RUU Keperawatan belum mampu disahkan menjadi sebuah Undang-Undang. Terakhir, beberapa media menuliskan bahwa RUU Keperawatan telah mengalami pengurangan esensi sebesar 60% dari draft awal yang telah diajukan.

Harapan dalam kegelapan
Melalui momen peringatan Hari Perawat Internasional di tahun 2014 ini, perawat diharapkan mampu merebut sebuah momentum untuk bangkit ditengah keraguan dan keterpurukan profesi. Perawat harus mampu terus meng-upgrade kemampuan, pengetahuan maupun level pendidikan dalam bidang keperawatan. Selain itu, perawat juga harus mampu terus mengawal hak dalam memperoleh pengakuan melalui perundang-undangan dan peraturan legal khususnya di Indonesia.

Salah satu jalan untuk menjadikan profesionalitas perawat menjadi lebih baik sudah diupayakan melalui adanya Uji Kompetensi bagi mahasiswa Keperawatan sebagai syarat untuk memperoleh pengakuan dalam bentuk Surat Tanda Registrasi (STR). Diharapkan melalui terobosan dan pemikiran seperti ini maka profesi keperawatan akan bertumbuh dan berkembang menjadi lebih baik. 

Tidak cukup jika kita sebagai perawat hanya memenuhi social media kita dengan meng-update status maupun gambar yang dianggap berkaitan dengan International Nurses Day. Lebih daripada itu, harus ada pemikiran, ide dan tindakan yang lebih nyata untuk membangun profrdi yang kita cintai ini. Selamat Merayakan Hari Perawat Internasional tahun 2014, jadilah perawat yang CERDAS dalam berpikir, SANTUN dalam bertindak dan TERAMPIL dalam bekerja.
Tuhan Memberkati


Referensi
[1]. Wikipedia, 2013. "Hari Perawat Internasional". [link] Diakses tanggal 11 Mei 2014
[2]. Yulia, 2014. "Hari Perawat Sedunia, Selamat Ultah Florence Nightingale". [link] Diakses tanggal 12 Mei 2014
[3]. ICN, 2014. "International Nurses Day, A Force for Change A Vital Resource for Health". [link] Diakses tanggal 12 Mei 2014
[4]. BPPSDMK Depkes RI, 2013. "Rekapitulasi SDM Kesehatan di Indonesia". [link] Diakses tanggal 12 Mei 2014
[5]. Depkes RI, 2013. "Menkes: Kembalikan Kebanggan Untuk Melayani dalam Diri Perawat". [link] Diakses tanggal 12 Mei 2014
[6]. HPEQ Dikti, 2013. "Data Akreditasi Program Studi Keperawatan Per April 2012".[link] Diakses tanggal 12 Mei 2013
[7]. Kedaulatan Rakyat, 2013. "Standar Kompetensi Perawat Indonesia Tak Diakui Dunia". [link] Diakses tanggal 04 Februari 2014.





 
 
 

Tahun ini tema yang diambil dalam merayakan Hari Perawat Sedunia yang dikutip dari International Council of Nurses (ICN) adalah 'A Force for Change A Vital Resource for Health'. Tema ini diambil untuk para perawat yang melakukan perubahan dengan sebuah sumber daya vital bagi kesehatan di sepanjang tahun, melalui aksi individu dan kegiatan kelompok. - See more at: http://news.liputan6.com/read/2048606/hari-perawat-sedunia-tt-selamat-ultah-florence-nightingale#sthash.j55hV7kE.dpuf
Tahun ini tema yang diambil dalam merayakan Hari Perawat Sedunia yang dikutip dari International Council of Nurses (ICN) adalah 'A Force for Change A Vital Resource for Health'. Tema ini diambil untuk para perawat yang melakukan perubahan dengan sebuah sumber daya vital bagi kesehatan di sepanjang tahun, melalui aksi individu dan kegiatan kelompok. - See more at: http://news.liputan6.com/read/2048606/hari-perawat-sedunia-tt-selamat-ultah-florence-nightingale#sthash.j55hV7kE.dpuf
Tahun ini tema yang diambil dalam merayakan Hari Perawat Sedunia yang dikutip dari International Council of Nurses (ICN) adalah 'A Force for Change A Vital Resource for Health'. Tema ini diambil untuk para perawat yang melakukan perubahan dengan sebuah sumber daya vital bagi kesehatan di sepanjang tahun, melalui aksi individu dan kegiatan kelompok. - See more at: http://news.liputan6.com/read/2048606/hari-perawat-sedunia-tt-selamat-ultah-florence-nightingale#sthash.j55hV7kE.dpuf